UMSU Persiapkan Seminar Melayu Antarbangsa di Guangdong

KANALMEDAN – Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) bersama sejumlah universitas di Malaysia, Tiongkok dan Jerman akan menggelar seminar antarbangsa pendidikan, bahasa dan budaya Melayu yang direncanakan berlangsung di Guangdong University of Foreign Studies, Tiongkok pada Februari 2020.

Rektor UMSU Dr Agussani, MAP mengatakan, pihaknya ditunjuk menjadi salah satu unsur panitia untuk ikut menyukseskan pelaksanaan seminar internasional tersebut. “Dari Indonesia kita diminta ikut bergabung dan menyukseskan pelaksanaan seminar yang diharapkan bisa lebih mempererat hubungan antara negara-negara ASEAN dan negara lain yang memiliki akar budaya Melayu,” katanya kepada wartawan di Medan, Senin (2/12).

Rektor UMSU Agussani ditunjuk sebagai salah satu unsur pelindung dalam panitia pelaksana bersama Universitas Pendidikan Sultan Idris, Universitas Putra Malaysia, Universitas Pendidikan Guru Kampus Ipoh, Guangdong University Foreign Studies, Goethe Universitaat Frankfurt. Seminar akan mengambil tema, “Pendaulatan Pendidikan Bahasa, Sastera, dan Budaya Melayu di Peringkat Antarabangsa”.

Untuk persiapan seminar internasional itu telah dilaksanakan rapat di Kampus Institut Pendidikan Guru Kampus Ipoh, Malaysia,pada, Rabu (28/11) lalu. Rapat dihadiri Rektor UMSU Agussani bersama Direktur Paacasarjana Dr Syaiful Bahri, MM, Prof Dr Khairil Ansari, Dekan FAI Dr M Qorib, MA, Dekan FISIP Dr Arifin Saleh Siregar, MSP dan Kepala Biro Humas Protokoler Dr Ribut Priadi, S Sos M IKom.

Pihak IPGK Ipoh langsung dipimpin Rektor Dr Yahya Bin Osman, Wakil Rektor En Mohd Khadri bin Fazil Rahman, En Shamsuddin bin Abu Bakar, Prof Mad Dr Asmawati bin Subid, Ketua Prodi Bahasa dan Kemanusiaan. Dari Universitas Pendidikan Sultan Idris Perak hadir Prof Dr Abdul Rasid bin Jamian serta perwakilan Universitas Putra Malaysia.

Dalam rapat persiapan itu, Agussani mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk meneguhkan kembali budaya dan bahasa Melayu melalui pendidikan dan penelitian dengan mendirikan Pusat Peradaban Melayu. Kajian-kajian tentang bahasa dan budaya Melayu ke depan sudah semestinya terus digalakkan sehingga pada gilirannya peradaban Melayu bisa kembali berkiprah.

Menurut Rektor, pilihan kampusnya untuk lebih mendekat dan menjalin kerjasama erat dengan Negara Tetangga Malaysia karena lebih relevan untuk melaksanakan agenda bersama. Disamping itu adanya kesamaan budaya dan agama membuat jalinan kerjasama jadi terasa lebih mudah.

“Ada semacam kontak batin jika mempererat hubungan dengan kampus di Malaysia,, jadi” lebih termotivasi,” katanya.

Sebelumnya, Rektor IPG Kampus Ipoh, Dr Yahya bin Osman, berharap kerjasama dengan berbagai kampus di negara ASEAN, Indonesia, Malaysia sebagai negara serumpun dan memiliki akar budaya sama bisa memberikan manfaat bagi mempererat hubungan khususnya dalam bidang bahasa dan budaya. (Nas)

Print Friendly