Mahasiswa S2 Inkes Helvetia Kunjungi PKS PTPN II Pagar Merbau

Plt Manajer PKS PTPN II Pagar Merbau Jaya Brana Sembiring diabbadikan bersama dosen pembimbing Dr Tri Niswati Utami, MKes dan mahasiswa S2 Inkes Helvetia.

KANALMEDAN – Dalam rangka Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2020, mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat (MKM) Peminatan K3 Institut Kesehatan Helvetia Medan melakukan kunjungan residensi ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN II Pagar Marbau, Deli Serdang, kemarin.

Rombongan 18 mahasiswa S2 Prodi MKM yang didampingi pembimbing mata kuliah K3 Dr Tri Niswati Utami, MKes itu diterima dengan ramah oleh Plt Manajer PKS PTPN II Pagar Merbau Jaya Brana Sembiring.

Sebelum menuju PKS untuk melihat proses produksi pengolahan minyak, Jaya Brana Sembiring terlebih dahulu memberikan arahan safety induction, yaitu pengenalan dasar keselamatan dan kesehatan kerja bagi tamu dan karyawan baru.

Secara rinci manajer PKS mengarahkan rambu-rambu keselamatan di pabrik, hal-hal yang harus dipatuhi, peralatan keselamatan, proses produksi dan pengolahan minyak hingga limbah hasil produksi.

Dikatakan, PKS Pagar Marbau yang berdiri sejak tahun 1927 merupakan pengolahan minyak yang telah mendapatkan akreditasi PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan) Bendera Biru. PROPER merupakan penilaian terhadap kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI ditandai dengan bendera biru, hijau dan emas.

Keberadaan pabrik yang selalu mendapat mind set negatif bagi masyarakat sekitar, katanya, tidak sepenuhnya benar.  PKS berusia 120 tahun ini telah memberikan sumbangan yang sangat besar kepada masyarakat dan Negara. Sumbangan itu berasal dari limbah hasil produksi. PKS telah mampu mengolah limbah gas metan menjadi sumber energi listrik yang dijual kepada PLN sebesar 1 juta/Kwh/jam. Selama 4 bulan ini sekitar 600 – 800 Kwh/hari daya yang dihasilkan,” kata Jaya.

Pengolahan CPO, kata Jaya, menghasilkan gas metan yang selama ini dibuang ke udara, kemudian ditangkap dalam sungkup melalui mesin pemisah. Gas CH4 diolah menjadi bahan bakar mesin yang menghasilkan daya energi. Apabila mesin beroperasi selama 20 hari dan 20 jam maka income yang diperoleh mencapai Rp400 juta dalam 1 bulan.

Dia mengatakan, beberapa kasus kecelakaan yang pernah terjadi pada pekerja, rerata karena mempunyai masalah pribadi. Sehingga untuk mencegah munculnya kasus yang sama peran manajer sangat menentukan.

“Sebelum bekerja para karyawan berkumpul bersama, berdoa, berserah diri, memohon keselamatan dan menyerahkan semua urusan pada Tuhan. Diharapkan semua permasalahan pribadi tidak membebani pekerja sehingga lebih ringan untuk melakukan pekerjaan. Oleh karena para pekerja dihadapkan pada risiko bahaya kerja seperti mesin produksi,” tambah Jaya.

Sementara itu dosen pembimbing Dr Tri Niswati Utami, MKes mengatakan, sinergisitas antara perguruan tinggi dan industri memudahkan dalam capaian pembelajaran mata kuliah Keselamatan Kerja dan Manajemen Risiko.

“Mahasiswa dapat mencapai kompetensi pengenalan peralatan keselamatan, jenis APD (Alat Pelindung Diri), potensi bahaya kerja dan mengembangkan daya analisis pencegahan kecelakaan kerja melalui manajemen perilaku kerja,” kata Tri.

Di sisi lain perusahaan, tambah Tri, PKS PTP II mendapat masukan dari Institut Kesehatan Helvetia  untuk meningkatkan penerapan APD khususnya earplug (sumbat telinga) dan earmuff (penutup telinga) bagi pekerja yang berhadapan dengan mesin yang bising, karena keberadaan alat ini dapat menurunkan 25 – 30 dB sumber bising dari mesin produksi. (Nas)

Print Friendly