Novita Sari SH : Semangat Kartini, Perempuan Harus Mandiri

Novita Sari SH

Novita_SariSH

KANALMEDAN – Salah satu makna dari semangat perjuangan RA Kartini tentang emansipasi perempuan, adalah kemandirian. Maka untuk mendapatkan hak yang setara dengan kaum pria, kaum perempuan harus berjuang untuk hidup mandiri.

Demikian dikatakan politisi Partai Golkar, Novita Sari SH menjawab wartawan di Medan, Kamis (20/04/2017) menanggapi Hari Kartini yang diperingati tanggal  21 April setiap tahunnya.

Aktivis pemuda yang kini Sekretaris Komisi D DPRD Sumut ini mengatakan, memaknai   Hari Kartini tidak sekedar menggelar acara-acara seremonial. Lebih dari itu, perempuan  Indonesia harus mewujudnyatakan cita-cita RA Kartini dalam kehidupan sehar-hari.

Menurut dia, RA Kartini adalah figur perempuan  yang didaulat paling berjasa bagi kaum wanita di Indonesia untuk kiranya lebih maju.  RA Kartini telah  mempelopori para wanita agar mendapatkan hak yang setara dengan kaum pria, khususnya dalam memperoleh pendidikan.

“Perjuangan RA Kartini sudah berhasil, dibuktikan dengan terciptanya  keadilan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam semua aspek pembangunan. Bahkan saat ini, sudah banyak perempuan hebat di Indonesia yang sudah memperoleh kemajuan”, ujarnya.

Novita Sari yang juga Bendahara di KNPI Sumut menilai, Kartini-Kartini saat ini sudah diberi peran yang sangat luas untuk berkifrah dalam berbagai lapangan pengabdian. Tinggal bagaimana kaun perempuan melanjutkan cita-cita Kartini tersebut, dengan menyiapkan  berbagai keunggulan dalam diri masing-masing.

“Selain harus memiliki ilmu pengetahuan yang luas, Kartini – Kartini saat ini sudah harus tampil sebagai sosok Kartini yang mandiri. Mampu berkifrah ditengah persaingan yang makin ketat dan penuh dinamika”, ujarnya anggota DPRD Sumut dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut VI meliputi kabupaten Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara (Labura) dan Labuhan Batu Selatan (Labusel) ini.

Untuk menjadi wanita yang mandiri sesuai cita-cita RA Kartini, katanya, sudah seharusnya kaum wanita  mengubah cara berpikir, cara kerja, dan cara hidup. Hal  tersebut selaras pula dengan  gerakan revolusi mental yang sedang gencar disosialisasikan dan diimplementasikan Pemerintahan Jokowi-JK.

Dengan kondisi apapun, kata dia, seharusnya kaum perempuan  dapat berperan aktif membangun Indonesia.Maka upaya ini dapat dimulai dari langkah paling sederhana, misalnya dimulai dari keluarga, lingkungan terdekat, hingga masyarakat yang lebih luas.

Novita  Sari yakin  sudah cukup banyak perempuan Indonesia yang memiliki pikiran maju, berpendidikan, berpengalaman, didukung dengan kesempatan luas, mampu ikut serta mewujudkan pembangunan nasional .

Dia juga mengakui, dapat menjadi anggota dewan di legislatif, tidak terlepas dari perjuangan panjang. Bahkan semangat RA Kartini  menjadi salah satu sumber inspirasi bagi dirinya untuk bangkit.

“Maka untuk berkiprah dan hidup mandiri, perempuan Indonesia harus kuat, berkarakter, dan berintegritas. Namun sebagai perempuan Indonesia, kodratnya sebagai perempuan dan ibu rumahtangga tidak boleh diabaikan”, ujarnya.

Novita Sari mengaku sebagai salah seorang perempuan Indonesia, yang menyakini bahwa sebuah Bangsa akan maju tergantung pada kualitas perempuan. Demikian juga,  dibalik suksesnya sebuah keluarga selalu  ada peran penting seorang perempuan yang kuat.

“Dibalik kelembutannya,sesungguhnya perempuan adalah  mahluk yang kuat dan tabah. Perempuan  memikul beban sebagai seorang istri, seorang ibu, seorang karyawati dan seorang anggota masyarakat”, katanya.

Untuk itu, dalam memperingati Hari Kartini tahun ini, dia berharap  kaum perempuan memanfaatkannya sebagai momentum untuk melakukan perubahan. Perempuan harus bangkit dan tetap meneladani semangat RA Kartini dalam mengangkat derajat kaumnya.

Terkait statusnya sebagai salah seorang politisi perempuan di DPRD Sumut, Novita Sari  mengatakan, semangat Kartini harus digelorakan di lingkungan dewan.  Pimpinan dewan juga harus memberikan peran yang lebih besar bagi kaum perempuan, dalam memboboti  kebijakan-kebijakan yang diambil lembaga legislatif. (Jen)

Print Friendly

About The Author

Related posts