DULU BEKAS GALIAN, KINI DANAU SIOMBAK DISIAPKAN JADI OBYEK WISATA BAHARI UNGGULAN

danau
danau

TAK ada yang menyangka kalau bekas galian dan hamparannya sekelilingnya itu kelak memberi prospek yang menjanjikan. Apalagi, semak belukar yang tak terurus dengan kondisi lingkungan yang semraut, membuat masyarakat di sana pesimis. Yang terjadi kemudian justru mencengangkan: “lubang besar buatan” itu berhasil disulap menjadi obyek wisata bahari unggulan di Kota Medan, Sumatera Utara.

“Warga di sana menyebutnya sebagai Danau Siombak, karena begitu mengalir pertama kali ke aliran bekas galian itu, malamnya muncul ombak bergulung-gulung lalu berhenti,” kenang Rizal Algane Barus.

Warga Langkat, Sumut, ini tertarik untuk menggelontorkan ratusan juta dengan tekad mewujudkan impiannya mengubah Danau Siombak menjadi bisnis menarik sekaligus obyek wisata bagi warga Medan dan sekitarnya.

Di tangan Rizal, yang dikenal sebagai pengusaha itu, danau seluas 46 hektar yang berlokasi Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, berjarak sekitar 20 km dari utara pusat Kota Medan, danau tersebut pelan-pelan dipermak dengan berbagai inovasi yang berbeda dan menarik perhatian. “Semua saya ubah dengan sesuatu yang unik dan berbeda. Ini sebagai lampias kekesalan karena bekas galian itu dibiarkan bertahun-tahun,” ujarnya.

Tak diketahui persis mengapa bekas galian itu tidak ditata kembali setelah tanahnya dikeruk untuk program Medan Urban Development Project (MUDP) pada tahun 1980-an. Tanah kerukannya digunakan untuk pembangunan jalan nasional mulai dari Kecamatan Medan Marelan hingga ke kawasan Pelabuhan Belawan, dengan tujuan pengembangan pelabuhan terbesar dan tertua di Sumatera Utara tersebut.

Melesat seiring berjalannya waktu, pada awal 2000-an, Danau Siombak dijadikan pilot project berbasis bersih lingkungan, untuk mengimbangi tingginya populasi di Kota Medan yang berpenduduk lebih dari 3 juta jiwa ini.

Dasar pertimbangannya adalah sumberdaya kelautan dengan aneka ragam ekosistem flora, fauna serta gejala alam dengan keindahan pemandangan merupakan potensi yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat. Kemudian, sumber alam yang dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata adalah berupa flora, hutan, keaneka ragaman fauna dan berbagai bentuk ekosistem khusus. Ini sudah menjadi syarat minimal Danau Siombak dapat dikembangkan menjadi obyek wisata bahari ini, karena berkait dengan sebuah kegiatan wisata yang berhubungan dengan laut, dan danau.

Dari 46 hektar lahan, Rizal hanya diberi hak penguasan dan pengelolaan darat sekitar 24 hektar, mengingat sisanya masih terkategorikan oleh Pemko Medan sebagai situs sejarah yang hingga kini masih dalam pengawasan Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSD) Sumut dan Badan Warisan Sejarah (BWS) Sumut

Meski hanya separuh, kehadiran kedua badan yang terus menerus melakukan penelitian asal muasal Kota Medan, Rizal kemudian semakin yakin untuk terus mengepakkan sayap bisnisnya mengembangkan Danau Siombak menjadi kawasan wisata bahari dan sejarah.

Kondisi alam masih sangat perawan dan tidak terkontaminasi dengan polusi atau zat perusak lingkungan lainnya. Danau Siombak sampai kini tetap fresh, khususnya di sejumlah rawa yang dibiarkan masih asri. Disebut fresh, karena di kawasan itu terdapat sekitar 30 jenis pepohonan air, dan mangrove – yang mungkin belum tersentuh penelitian. Dapat dimaklumi, tanaman rawa itu sudah ada sejak ribuan tahun dan menjadi alur transportasi semasa kerajaan Deli yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kota Medan.

Tidak ada tempat mandi cuci kakus, dan rawa di sana yang masih dipenuhi hutan semilebat bawaan rawa itu sendiri selama ratusan tahun, sehingga layak djadikan penelitian berskala kecil. Tidak ada di tempat mandi cuci kakus (MCK), kecuali di beberapa alur sungai terpisah yang tidak bermuara ke Danau Siombak Selain itu, pohon-pohon penyanggga masih ada di sejumlah bibir sungai.

Berdasarkan investigasi penulis, walau mereka menggunakan MCK, warga di Kelurahan Paya Pasir tetap menggunakan air leding. Dari data yang ada, terdapat sekitar 232 saluran rumah tangga yang rumahnya dialiri air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Medan, sedangkan sisanya sumber air bawah tanah sebanyak 4 bak penampungan, yang dibangun Pemko Medan dan Pemprov Sumut.

Terletak di antara dua sungai, yaitu Sungai Deli yang bermuara di Bagan Deli, Belawan, dan Sungai Terjun yang bermuara di Kuala Deli, Belawan, danau tersebut menjadi pembuka jalan sekaligus menungkap misteri sejarah masa silam. Di dua sungai tersebut dengan Danau Siombak sebagai “anakannya” dahulu adalah kawasan sejarah yang merupakan perlintasan Sungai Deli.

Sungai Terjun (disebut juga Sei Belawan) yang bermuara di Kuala Deli menuju Belawan merupakan tempat persinggahan kapal dan jalur transportasi dan perdagangan yang penting. Sungai ini disebut dalam beberapa literatur pantun memiliki keindahan. Airnya yang segar pernah dilintasi kapal-kapal layar berukuran sedang. Sungai ini yang menghubungkan tiga kabupaten, yakni Karo, Medan, dan Deli Serdang – semuanya di Sumatera Utara.

Pada zaman dahulu, kawasan Kota Medan — dikenal dengan nama Tanah Deli — sebagian besar merupakan tanah rawa-rawa dengan luas kurang lebih seluas 4.000 hektar. Beberapa sungai melintasi Kota Medan ini dan semuanya bermuara ke Selat Malaka. Sungai-sungai itu adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling atau Sei Kera. Sungai Deli dan sungai sungai lainnya di Kota Medan berperan dalam irigasi dalam perkebunan tembakau di Kota Medan dan menjadi komoditas yang dibanggakan.

Untuk memancing minat masyarakat, sekaligus membuka kembali ingatan sejarah, terhitung pertamakali beroperasi tahun 2002, kegiatan berskala kecil diberinama “Mengarungi Lintasan Sejarah Sungai Deli” – dengan rute Sei Deli, Sei Belawan dan sungai-sungai anakan baru lainnya di kawasan Pelabuhan Belawan.

Periode 2004-2008, baik RIzal Barus maupun Pemko Medan, pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai (keduanya kabupaten ini merupakan satu jalur terentang dari kawasan dari Pelabuhan Belawan) dan Pemprov Sumut sudah berulangkali menggelar acara berskop daerah, provinsi bahkan regional sekawasan negara-negara ASEAN. Di antaranya, lomba memancing dengan menggunakan perahu yang digelar Pertamina, Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Belawan, unsur Muspika Kecamatan. Kemudian, pesta nelayan oleh masyarakat Belawan sebagai syukur berakhirnya musim paceklik ikan.

Adapun unsur edukasi, kunjungan sejumlah siswa sekolah di hampir 21 kecamatan di Medan untuk melihat dari dekat proses terbentuknya kota Medan dengan menggunakan perahu. Adapun ekowisata bahari, juga pernah didatangi mahasiswa dari ITB Bandung, mahasiswa Malaysia dalam paket kunjungan ekowisata bahari. Mereka diajak berkeliling Danau Siombak untuk melihat langsung ekosistem alam khas sungai berupa hutan mangrove, fauna baik fauna sekitar Danau Siombak.

 

SUASANA ALAM YANG ASRI

 

Kini untuk lebih menggairahkan minat pengunjung, acara jalan-jalan menggunakan kapal diperluas mulai dari sekawasan Danau Siombak, hingga ke Pelabuhan Belawan. Jika ditelusuri, maka kawasan yang dilalui seolah mirip perjalanan mengitari suasana alam yang benar-benar asri. Tanpa suara bising, para pelancong begitu terkesima dan asyik menikmati perjalanan. Dengan biaya Rp 100.000 per orang, pengunjung dijamin tak bosan, karena di ujung perjalanan, mereka akan menyaksikan laut bebas — tempat berlangsungnya aktifitas bongkar-muat, sandar dan para nelayan yang asyik memancing di Pelabuhan Belawan.

Sampai akhirnya, pertengahan 2008, kawasan melancong ini dijadikan paket wisata liburan keluarga oleh Pemko Medan dan masuk dalam kalender wisata Provinsi Sumatera Utara. Jumlah pengunjung hingga 2010-2015 mengalami kenaikan signifikan. Mulai dari 45 ribu per bulan berkisar 500.000 orang per tahun.

Yang membuat pengunjung tertarik dan betah, karena semua suguhan pemandangan disajikan secara terintegrasi dan menyatu dengan alam dan sesuai dengan konsep ekowisata dan bahari. Untuk kafe, misalnya, dibangun dengan menggunakan kayu jati yang ramah lingkungan, begitu juga kursi tamunya.

Kayu jati yang banyak disukai orang karena dianggap punya tampilan tekstur dan serat paling bagus. Bahkan ada yang menyatakan bahwa kayu jati adalah kayu terindah di antara jenis kayu yang lain. Kayu ini punya karakter yang lebih stabil, awet, tahan lama dan kuat. Selain itu, kayu jati juga tahan menghadapi serangan jamur maupun rayap dan serangga yang lain. Sebab dalam seratnya ada sejenis kandungan minyak yang tidak disukai oleh binatang. Untuk tempat main bilyar, dipasang bambu tahan panas sebagai dinding.

Adapun untuk sarana penunjang, di kawasan pinggiran, mulai dari jalan setapak hingga pagar pembatas, terlihat ada jalan paving-block dan lampu penghias, yang masing-masing sisinya dicat berwarna hijau, dan di beberapa titik dipasangkan kantung pasir. Hijau kesannya asri, sedangkan kantung pasir buat mencegah banjir. Desainnya tidak berat, sehingga terkesan seperti pola wisata ramah budaya dan adat setempat yang mencerminkan nilai edukasi dan wisata.

Sedangkan untuk barak istirahat, terlihat pola wisata ramah lingkungan, yang terlihat dari bentuknya yang sederhana, sengnya tidak memantulkan cahaya panas dan dibuat iring-beriring. Tidak ada celah panas yang masuk ke satu barak dengan barak lain.

Nah ini agak beda. Untuk seluruh pembangkit daya, termasuk kapal penyebrangan yang ikut menambah semarak warga mengunjungi Danau Siombak, pengelola yang dipimpin Rizal Barus mengaku menggunakan kotoran sapi sebagai energi alternatif. Untuk menunjang “kemampuan” kotoran sapi, Rizal menyediakan sejumlah genset dual fuel di beberapa titik.

“Memang saya pikir-pikir rumit pada awalnya karena banyak sekali proses dan membutuhkan waktu berhari-hari. Dicoba lagi, dicoba lagi, sampai akhirnya bisa kita gunakan untuk menerangi kafe di sore hari. Hitung-hitung, daripada pakai bensin atau solar, rugi juga bang,” papar Rizal, tanpa merinci kerugian dimaksud.

Genset dual fuel atau berbahan bakar ganda dipasang sesuai anjuran para ahli yang sudah menguji coba kotoran sapi bertenaga listrik di Desa Pematang Seleng, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Selatan itu, sekitar 300 km dari Medan, Sumut. Mereka mengaku sudah menggunakan listrik yang energinya berasal dari kotoran sapi.

Dengan kapasitas 10 KWH itu, genset bisa menghasilkan daya listrik sebesar 2.000 watt, sedangkan untuk satu kWh konsumsi listrik memerlukan 0,03 m3 biogas (satu m3 biogas sama dengan 0,8 liter solar/premium).

Kotoran sapi dicampurkan dengan air satu banding satu atau satu banding dua, lalu dimasukkan ke dalam reaktor secara anaerob selama 21-30 hari, sehingga terjadi pembusukan dan kemudian menjadi gas methan.

Sekitar 60 persen biogas itu adalah gas metana (CH4), 38 persen karbon dioksida (CO2), dan sisanya gas hidrogen sulfida (H2S). Gas yang dihasilkan dari proses dekomposisi bahan organik secara anaerob ini kemudian bisa menjadi bahan bakar untuk genset listrik dan bisa diaplikasikan oleh siapapun. Untuk setiap satu ekor sapi/kerbau dapat menghasilkan kurang lebih dua m3 biogas per hari dan ini cukup untuk keperluan penerangan selama beberapa jam.

Untuk menjaga kelestarian lingkungan, untuk sementara kotoran sapi diperoleh dan sudah diolah dari kelompok tani. Dengan penggunaan kotoran sapi, banyak keuntungan yang diperoleh. Antaralain, mengoptimalkan limbah organik yang sudah tidak terpakai, sehingga tidak menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan.

Selain itu juga menghasilkan hasil samping tambahan berupa kompos organik baik dengan bentuk kompos cair maupun kompos padat dengan kualitas yang sangat tinggi dan cocok sebagai pupuk organik untuk segala jenis tanaman.

Biogas dapat dibakar seperti layaknya elpiji, sehingga dalam skala besar biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Kotoran sapi sebenarnya sudah dimanfaatkan sejak tahun 1960-an. Namun belakangan ini gas yang dihasilkan dari kotoran sapi dimanfaatkan sebagai energi alternatif, seiring dengan semakin mahalnya harga bahan bakar minyak dan gas elpiji.

Indonesia termasuk negara dengan potensi sumber bio gas yang tinggi, karena jumlah populasi ternaknya mencapai 13 juta ekor. Ini berarti, potensi kotoran ternak bisa mencapai 130 ribu ton per hari. Namun potensi limbah yang banyak ini, belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengatasi krisis Bahan Bakar Minyak (BBM).

Dengan segala kemampuan dan dana yang terbatas, Rizal berharap semua upayanya ini sejalan dengan Kepmen PU No. 387 tahun 1987, yang menerapkan keseimbangan antara kebutuhan RTH kota. Adapun RTH Danau Siombak yang ada pada pinggiran kota dapat memenuhi sebagai fungsi kawasan penyeimbang, konservasi ekosistem dan dapat tercipta sebagai iklim mikro (ekologis), sebagai sarana rekreasi wisata warga kota, sarana olah raga air dan pantai sebagai pelayanan umum yang ekonomis, pembibitan, penelitian (edukatif), dan keindahan pendukung landskep kota (estetis).

Semua jenis ruang terbuka hijau (RTH) harus diusahakan dapat berfungsi estetis, karena secara alami manusia membutuhkan hidup dekat dengan alam yang asri, nyaman dan sehat, sehingga terjadi siklus kehidupan penunjang fungsi ekosistem alam.

 

MEMACU PERTUMBUHAN WISATA

 

Sejauh ini, hanya Pemko Medan yang concern dengan kehadiran Danau Siombak. Padahal jika kita serius memerhatikan secara menyeluruh, Danau Siombak memberikan manfaat besar dalam memacu pertumbuhan wisata dalam rangka mengoptimalkan kekayaan sumber daya menuju Sumut bangkit, khususnya meningkatkan pesona pariwisata yang berdaya saing.

Dilihat dari pelabuhan Belawan yang sangat terkenal itu, Danau Siombak dapat dijadikan obyek wisata bahari, mengingat lokasi dari pelabuhan ke danau buatan itu tidak begitu jauh.

Yang membuat obyek wisata Danau Siombak harus diperhitungkan adalah diresmikannya Bandara Kualanamu Internasional Airport (KNIA). Bandara yang berlokasi di Deli Serdang oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhono (ketika itu) hari Kamis 27 Maret 2014 lalu. Sarana wisata ini menjadi sarana yang secara tidak langsung terkoneksi dengan moda transportasi darat dan laut, lebih-lebih sudah dimulainya pembangunan jalan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi yang ditargetkan selesai 2017.

Hubungan dari Kualanamu dan sekitarnya langsung ke Pelabuhan Belawan untuk menuju Danau Siombak menjadi relatif mudah. Bahkan jika dilakukan dengan seksama, akses jalan laut dapat dilakukan mulai dari sejumlah pantai, termasuk Pantai Cermin di Deli Serdang – yang tak jauh dari jalan tol menuju Bandara ke Belawan menuju ke Danau Siombak.

Lebih memudahkan lagi, kini telah pula dioperasikan KA Kuala Namu tujuan Medan ke bandara Kualanamu, yang jauh lebih cepat berkisar 35 menit, dibanding moda transportasi lainnya. Jalur yang sama dengan kereta api biasa, juga ada KA Medan-Belawan. Jika terkoneksikan antara Kualanmamu-Medan-Belawan seterusnya menggunakan jalan darat, maka ini menjadi peluang yang sangat besar untuk mempopulerkan Danau Siombak secara lebih luas.

Kabar gambira lain adalah jika sang turis ingin ke Danau Siombak dari Bandara Silangit via Bandara Kualanamu, maka ini juga menjadi kabar baik, karena terhitung 23 Maret 2016, pesawat jenis CSJR 100 Bombardir sudah dapat mendarat di bandara yang terletak di Siborong-borong – Tapanuli Utara, Sumatera Utara itu, setelah ukuran landas pacunya diperluas menjadi 2650 x 45 meter setelah sebelumnya hanya 2.400 m x 30 m.

Itu artinya, jika turis ingin ke Danau Siombak, maka perjalanan udara dan darat menjadi terintergrasi dengan mudah, dan cepat. Apalagi, jika turis ingin mengunjungi dua obyek wisata bersamaan, yakni Danau Toba dan Danau Siombak, maka transportasi udara dan darat makin memudahkan mereka melongok obyek wisata tersebut.

Yang lebih menggembirakan, di saat yang sama, pemerintah pusat tak kalah gencannya melakukan berbagai langkah strategis, di antaranya dengan membangun sejumlah jalan nasional, termasuk jalan lingkar Medan – Belawan – Danau Toba dan Pulau Samosir yang berada di tengah danau itu dan sudah ditetapkan sebagai salahsatu dari 10 destinasi wisata prioritas. Ditetapkannya kawasan wisata di Sumatera Utara itu sebagai destinasi wisata prioritas adalah demi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara menjadi 1 juta orang pada tahun 2019.

Kegembiraan masyarakat Sumut makin membuncah tatkala pemerintah provinsi berpenduduk 12 juta jiwa lebih ini bersiap mempromosikan Danau Siombak dan Danau Toba sebagai wisata unggulan, sehingga nantinya diharapkan memberi dampak ikutan, yakni mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Jika semua komponen yang mendukung Danau Siombak sudah on the track (pada jalurnya), niscaya dua istilah – high season dan low season – tak jadi patokan dalam menjaring turis. Kenapa ? Lantaran, kekuatan yang ada – seperti jalur darat, udara, infrastruktur pendukung lainnya serta kecepatan waktu – sudah menjadi satu kesatuan yang memunculkan kesan mendalam bagi turis.

Kekuatan seluruh komponen yang ada menjadi syarat mutlak agar Danau Siombak dapat bersaing di tingkat dunia. Sebab, tidak bisa ditampik lagi bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor dengan tingkat kecepatan pertumbuhan yang sangat dinamis dalam perekonomian global, terutama di negara-negara maju. Bahkan pariwisata telah menjadi leading sector di banyak negara dan telah berhasil dalam mendatangkan investasi asing, sehingga pariwisata mampu menjadi generator dalam memicu dinamika pembangunan suatu negara.

Semakin disadari bahwa dinamika perkembangan kepariwisataan di masa mendatang akan dihadapkan pada kompetisi yang semakin ketat, baik dalam aspek pemasaran maupun pengembangan produk, maka harus semakin cepat pula kita mengambil langkah-langkah nyata dan strategis untuk mengemas daya saing di bidang pariwisata menjadi kekuatan, terutama dalam pemasaran dan promosi.

Jika kita berbicara lebih jauh, maka kehadiran bandara Kualanamu dapat dijadikan “modal” untuk memacu daya saing yang lebih intensif dan berkelanjutan, terutama untuk mencapai visi misi pembangunan Sumut 2018, yakni yaitu Sumatera Utara yang berdaya saing dan sejahtera. Keberadaan Kualanamu International Airport (KNIA), pariwisata Sumut secara langsung akan terdongkrak, dengan melihat provinsi ini berada di jalur perdagangan internasional dan memiliki sumber daya alam yang melimpah serta keanekaragaman budaya yang eksotis.

Dengan mengacu kepada upaya itu, Danau Siombak diharapkan menjadi salahsatu obyek wisata buatan yang dapat mendulang devisa di masa yang akan datang. Dengan melihat lokasi obyek wisata yang berada di alur sungai yang bermuara ke laut di Belawan, dan diapit sarana pendukung strategis termasuk jalan tol,

Danau Siombak tentunya diharapkan menjadi aset wisata Sumut yang dapat mengundang giarah turis dalam maupun luar negeri. Danau buatan di Danau Siomak memiliki keunikan, apalagi dari sisi sejarahnya tentu akan mengundang decak kagum, sehingga pantas dijadikan salahsatu obyek wisata menarik dan multifungsi. Semoga *** (PARTONO BUDY, TULISAN INI DIIKUTKAN DALAM LOMBA BAHARI NASIONAL DI JAKARTA)

 

Print Friendly

About The Author

Related posts