Halim Loe: Tradisi Sungkem Wujud Hormat kepada Orangtua

KANALMEDAN-Imlek merupakan salah satu perayaan terbesar yang dilakukan oleh masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia tiap tahunnya. Saat perayaan tersebut, banyak sekali tradisi yang kerap dilakukan oleh setiap keluarga.

Selain berkumpul dengan keluarga besar layaknya seperti perayaan hari besar keagamaan lainnya, bagi-bagi angpau menjadi tradisi wajib di tahun baru Imlek. Namun, bukan hanya itu, banyak tradisi yang sudah mulai pudar karena tergerus zaman di antaranya sungkem kepada orangtua.

Halim Loe, tokoh muda etnis Tionghoa di Medan, mengatakan bahwa tradisi sungkem pada saat Imlek sudah ada sejak di zaman kakek neneknya atau di saat mereka bermigrasi tepatnya pada generasi pertama dan kedua. Namun di generasi ketiga hal tersebut sudah memudar bahkan hilang.

“Setelah sekian lama, saya bersama keluarga merasa perlu melakukan sungkem kembali. Tetapi saya menyesal telah melakukan tradisi sungkem setelah mama saya tiada. Dan sekarang saya hanya melakukan dengan papa saya dan ini sudah tahun ketiga,” katanya, di Medan baru-baru ini.

Makna dari sungkem tersebut, lanjut, Halim, yakni untuk meminta maaf kepada orang tua atas kesalahan yang sudah dilakukan selama setahun. Sebagai orang yang lebih muda tentunya memiliki emosi yang lebih tinggi jadi hal itu bisa saja menyakiti orang tua.

Pada hari Imlek pertama itu waktu yang tepat untuk meminta maaf kepada orang tua. Pastinya, setiap orang tua akan terharu dan iba dan sebagai anak, kita wajib meminta maaf atas segala kesalahan yang sudah dilakukan.

Ia menambahkan, kenapa ajaran Buddha begitu melekat di kalangan tionghoa itu karena dalam ajaran Buddha orang tua dalam rumah adalah Buddha yang masih hidup. Sehingga bersujud dihadapan org tua seperti bersujud di bawah kaki Buddha.

“Tradisi seperti ini akan saya turunkan ke anak-anak saya. Saya sangat percaya, tidak semua orang bisa atau sanggup melakukan itu, karena itu perlu keberanian yang besar,” ucapnya.

Dilanjutkannya, tradisi lainnya yang sudah mulai pudar adalah tradisi tuang teh. Tradisi tuang teh kepada orang tua artinya memberikan “hasil manis” kepada orang tua.

“Kita tuangkan teh manis kepada orang tua sebagai penghormatan dan wujud bakti kita. Rumah besar, mobil dan harta tidak akan berarti bagi orang tua tetapi dengan menuangkan teh ke mereka pasti mereka akan terharu,” tandasnya.

Ia berharap tradisi-tradisi seperti itu harus diterapkan kepada generasi muda. Sebab tradisi adalah salah satu identitas dari suku tersebut. (NAS)

Print Friendly