Irigasi Tanjungmerawa Karo Hancur Diterjang Lahar Dingin Sinabung

Beli Air: Masyarakat petani di Kecamatan Tiganderket Karo terpaksa membeli air untuk menyiram dan menyemprot tanaman cabe dan palawija lainnya , semenjak irigasi Tanjungmoarawa hancur diterjang lahar dingin erupsi Gunung Sinabung. (Foto SIB/Firdaus Peranginangin).
Beli Air: Masyarakat petani di Kecamatan Tiganderket Karo terpaksa membeli air untuk menyiram dan menyemprot tanaman cabe dan palawija lainnya , semenjak irigasi Tanjungmoarawa hancur diterjang lahar dingin erupsi Gunung Sinabung. (Foto SIB/Firdaus Peranginangin).
Petani di Kecamatan Tiganderket Karo terpaksa membeli air untuk menyiram dan menyemprot tanaman cabe dan palawija lainnya. (Kanalmedan Mama Nangin)

KANALMEDAN – Anggota DPRD Sumut Dapil Karo Dairi dan Pakpak Bharat Siti Aminah Peranginangin sangat prihatin melihat kondisi masyarakat petani di 7 desa (Desa Tanjungmorawa, Tiganderket, Sukatendel, Mardinding, Kutambaru, Jandimeriah dan Temburun) Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo.

Apa pasal ? Tak lain, karena sudah 7 tahun irigasi Tanjungmorawa hancur-lebur diterjang lahar dingin erupsi Sinabung, hingga kini belum ada perbaikan.

“Akibat kehancuran irigasi tersebut, sedikitnya 1500 hektare areal persawahan dari 7 desa  yang selama ini menggunakan sumber air dari Sungai Lou Borus mengalami kekeringan yang secara atomatis tidak dapat ditanami padi,” ujar Siti Aminah Peranginangin kepada wartawan, Rabu (10/1) di DPRD Sumut seusai melakukan kunjungan ke Irigasi Tanjungmorawa Karo.

Berkaitan dengan itu, politisi PDI Perjuangan ini mendesak  Pemkab Karo dan BNPB (Badan Penanggulangan Bencana Nasional) segera melakukan perbaikan, agar masyarakat petani bisa kembali memfungsikan areal persawahannya, guna memenuhi kebutuhannya dan tidak lagi membeli air untuk menyiram dan menyemprot tanaman mereka.

Siti Aminah bahkan mengingatkan Bupati Karo ikut merasakan penderitaan masyarakat petani dari 7 desa, sebab sejak hancurnya irigasi tersebut, masyarakat banyak  mengalihkan tanamannya ke sayur-mayur,  sehingga ketika terjadi letusan  debu vulkanik Sinabung, tanaman masyarakat ditutupi debu. Untuk menyirami debu tersebut, masyarakat terpaksa membeli air.

“Kita berharap Bupati Karo ada action, jangan hanya melempar wacana untuk pelebaran jalan keliling Deleng Kutu, pembangunan Jalan Lingkar Laudah-Samura, pelebaran Jalan DTW (Daerah Tujuan Wisata) Air Panas di kaki Gunung Sibayak. Tapi faktanya banyak sarana dan prasarana irigasi maupun jalan yang hancur-lebur tak tersentuh pembangunan,” tegas Siti Aminah.

Seharusnya, tandas anggota Komisi B ini, Bupati Karo memprioritaskan perbaikan sarana inrastruktur jalan maupun irigasi  sesuai kebutuhan masyarakat, karena di era kepemimpinan Presiden Jokowi, tidak jamannya lagi menjual program, tapi saatnya mewujudkan program yang nyata.

 “Lihatlah, akibat kekeringan terus-menerus petani terpaksa membeli air untuk menyiram dan menyemprot tanaman. Kalau selama ini, air melimpah-ruah menggenangi persawahan 7 desa yang sumber airnya dari sungai Lou Borus melalui irigasi Tanjungmerawa,” ujarnya sembari menambahkan, akibat kehancuran irigasi tersebut perekonomian  masyarakat benar-benar terpuruk.

Bupati Prihatin

 Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Bupati Karo Terkelin Brahmana SH baru-baru ini di ruang kerjanya  mengaku sangat prihatin dan segera memerintahkan  Dinas PUPR Karo melakukan perbaikan , untuk mengobati kegelisahan masyarakat di 7 desa yang mengalami krisis air ke areal pertaniannya.(Nangin)

Print Friendly

About The Author

Related posts